MENYIAPKAN DESA TANGGUH BENCANA MELALUI PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT KERJASAMA UNRAM DAN UB
Hanya dalam hitungan menit, keputusan masyarakat pesisir dapat menentukan keselamatan saat gempa besar dan tsunami terjadi. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius di Desa Mertak, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, yang berada di pesisir selatan dan berhadapan dengan zona subduksi aktif.
POV: LOMBOK TENGAH — Hanya dalam hitungan menit, keputusan masyarakat pesisir dapat menentukan keselamatan saat gempa besar dan tsunami terjadi. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius di Desa Mertak, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, yang berada di pesisir selatan dan berhadapan dengan zona subduksi aktif.
Dalam skenario pemodelan yang menjadi dasar program pengabdian kepada masyarakat, tsunami akibat gempa besar di wilayah selatan Lombok diperkirakan dapat mencapai kawasan Teluk Kuta sekitar 12 menit 30 detik setelah kejadian.
Karena itu, kecepatan menerima informasi dan mengambil tindakan evakuasi menjadi faktor penting.
Menjawab kebutuhan tersebut, Universitas Mataram (Unram) bersama Universitas Brawijaya (UB) memperkenalkan teknologi pemantauan guncangan tanah berbasis Internet of Things (IoT) sekaligus memberikan edukasi mitigasi bencana kepada masyarakat Desa Mertak, Selasa (21/7/2026).
Program ini diarahkan untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman gempa bumi dan tsunami sekaligus mendukung terbentuknya desa yang lebih tangguh terhadap bencana.
Pasang “Mata Digital” Pemantau Guncangan
Selama ini, masyarakat masih banyak bergantung pada informasi kebencanaan yang bersifat regional maupun penyampaian secara manual. Desa juga belum memiliki sistem pemantauan guncangan lokal yang dapat memberikan informasi secara real-time.
Melalui program tersebut, tim pengabdian memperkenalkan sistem pemantauan Peak Ground Acceleration (PGA) berbasis IoT.
Sistem menggunakan sensor akselerometer untuk merekam getaran tanah secara kontinu pada tiga sumbu. Data yang diperoleh kemudian diproses melalui mikrokontroler dan dikirim melalui jaringan internet menuju sistem penyimpanan awan sehingga dapat dipantau secara digital.
Dengan sistem tersebut, kondisi guncangan tanah di sekitar desa dapat diketahui secara lebih cepat dan terukur.
Teknologi ini juga dirancang memiliki mekanisme peringatan otomatis. Apabila getaran yang terdeteksi melampaui ambang batas PGA yang telah ditentukan, perangkat dapat mengaktifkan sirene atau buzzer sebagai tanda peringatan.
Informasi tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu pendukung keputusan awal masyarakat dalam menghadapi kondisi darurat.
Data Bisa Dipantau Lewat Smartphone
Tidak berhenti pada perangkat sensor, sistem juga dirancang terintegrasi dengan dashboard digital.
Aparat desa dan Tim Siaga Bencana nantinya dapat memantau data PGA melalui perangkat seperti smartphone.
Pemantauan jarak jauh juga dikembangkan melalui integrasi dengan kamera CCTV berbasis IoT, sehingga kondisi di lapangan dapat dipantau dari lokasi lain.
Namun, tim pengabdian menegaskan bahwa teknologi hanyalah salah satu bagian dari sistem kesiapsiagaan.
Sebab, peringatan secepat apa pun tidak akan optimal apabila masyarakat tidak memahami apa yang harus dilakukan setelah menerima informasi tersebut.
Masyarakat Dilatih Hadapi Gempa
Karena itu, kegiatan juga diisi dengan edukasi mengenai mitigasi dan kesiapsiagaan bencana.
Masyarakat diberikan pemahaman mengenai langkah yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah gempa bumi.
Salah satu materi yang diperkenalkan adalah prosedur “Drop, Cover, and Hold On”, yakni menjatuhkan diri, melindungi kepala dan tubuh, kemudian berpegangan hingga guncangan berhenti.
Pelatihan juga dirancang mencakup simulasi mitigasi mandiri serta evaluasi pemahaman masyarakat melalui pre-test dan post-test.
Sementara bagi operator desa, diberikan pelatihan teknis mengenai pengoperasian dan perawatan perangkat.
Pendekatan tersebut penting agar sistem yang dibangun tidak berhenti pada pemasangan alat, tetapi benar-benar dapat digunakan dan dirawat oleh masyarakat setelah program pengabdian selesai.
Unram dan UB Kolaborasi Bangun Desa Tangguh
Kegiatan ini merupakan kolaborasi Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Mataram dan Universitas Brawijaya.
Tim Universitas Mataram dipimpin Dr. Suhayat Minardi, S.Si., M.T., dengan melibatkan dosen dan mahasiswa. Sementara Universitas Brawijaya diwakili Prof. Ir. Adi Susilo, M.Sc., Ph.D.
Program tersebut juga melibatkan perangkat Desa Mertak, masyarakat, serta mahasiswa KKN Universitas Mataram yang berada di desa tersebut.
Kolaborasi perguruan tinggi dengan pemerintah desa dan masyarakat tersebut diharapkan mampu menciptakan sistem kesiapsiagaan yang menggabungkan teknologi, pengetahuan, dan kemampuan masyarakat.
Posisi Desa Mertak sebagai wilayah pesisir selatan sekaligus kawasan penyangga KEK Mandalika membuat kesiapsiagaan bencana menjadi semakin penting.
Pertumbuhan aktivitas pariwisata dan pembangunan di kawasan Mandalika perlu berjalan seiring dengan peningkatan perlindungan terhadap masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir.
Bukan Sekadar Pasang Alat
Ke depan, sistem pemantauan PGA diharapkan menjadi salah satu bagian dari infrastruktur kesiapsiagaan bencana Desa Mertak.
Tim pengabdian juga menyiapkan pendampingan teknis, penyusunan SOP, serta penyerahan perangkat kepada pemerintah desa agar sistem dapat terus dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Program tersebut pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang sensor dan teknologi.
Di satu sisi, perangkat IoT berfungsi mempercepat informasi mengenai guncangan tanah. Di sisi lain, edukasi dan simulasi menjadi fondasi agar masyarakat mampu menerjemahkan informasi tersebut menjadi tindakan penyelamatan.
Dengan waktu respons yang sangat terbatas dalam skenario tsunami, kombinasi antara teknologi peringatan dini dan kesiapan masyarakat menjadi kunci. Desa Mertak pun didorong bukan hanya menjadi desa yang memiliki alat pemantau bencana, tetapi menjadi desa yang tahu kapan harus waspada dan apa yang harus dilakukan ketika peringatan datang. (Tria)